Transcript · English → Indonesian
Benefits of Squatting During Pregnancy
Dan yang harus kita lakukan, para wanita, setiap hari adalah ini.
Paham?
Jongkok.
Jika kalian tak bisa melakukan itu, bagaimana aku bisa melakukannya dengan mudah?
Karena saat aku hamil anak keenamku, aku membaca buku berjudul Active Birth
karya Janet Balaskas, dan dia berkata, "Jongkok." Aku tidak bisa jongkok.
Begini, eh, eh.
Dia berkata, "Jongkoklah selama 10 menit sehari dengan punggungmu
menempel di dinding," dan itulah yang
kulakukan. Jadi, saat aku melahirkan William,
jongkok terasa sangat nyaman,
dan aku jongkok setiap kali kontraksi. Lalu bayinya lahir.
Seluruh bayi itu meluncur keluar dariku dengan satu dorongan, dengan ketuban masih utuh. Huu.
Jongkok itu ampuh sekali.
Aku tak bisa menjanjikan itu, tapi
Tapi ba—banyak wanita kehilangan kekencangan
dasar panggul.
Kita seharusnya tidak mengalami prolaps
End of transcript · 122 words · machine translated
Original transcript (English)
And what we should be doing is, ladies, every day is this. Got that? Squatting. If you can't do that, and how come I can do that so easily? Because when I was pregnant with my sixth baby, I read a book called Active Birth
by Janet Balaskas, and she said, "Squat." I could not squat. It was, uh, uh, like this. She said, "Squat for 10 minutes a day with your back against the wall," which I did. So by the time I gave birth to William,
squatting was very comfortable, and every contraction I squatted. And then the baby was born. The whole baby flew out of me with one push with the bag intact. Whoo. That's powerful stuff, that squatting. I can't promise that, but
... But ma- many ladies lose pelvic floor tone. We should not have prolapses