Transcript · French → Indonesian
French → Indonesian transcript
Bisakah seseorang mencintai sebuah negeri yang bahkan bukan negeri, sebuah negeri yang tanahnya tak pernah ia pijak,
sebuah negeri yang satu-satunya ikatan fisik dengannya hanyalah seteguk minyak zaitun
yang ditaburi zaatar, yang membelai tenggorokan, yang memikat lidah dengan kehijauannya,
sebuah negeri yang foto-foto lamanya kita pandangi, dengan jantung berdebar,
sambil mencari di sana wajah para leluhur, di tikungan sebuah gang di Yerusalem.
Bisakah seseorang mencintai sebuah negeri yang begitu banyak orang di sekelilingnya bergembira melihatnya terbakar,
sebuah negeri yang dirusak, ditelan oleh korosi satu kata saja, teroris,
sebuah negeri anak-anak berserinya yang diubah menjadi boneka-boneka cacat, menjadi mayat berdebu,
sebuah negeri yang namanya sendiri saja sudah merupakan sebuah penghinaan, yang benderanya bisa membawa Anda ke
kantor polisi, tempat para penghuninya tak seberat sehelai bulu di timbangan nyawa manusia.
Bisakah kita mencintai negeri yang bahkan teman sendiri seakan mengabaikan sisi kelembutannya,
negeri yang membuat kita tampak mencurigakan, yang mengasingkan kita dalam gemetar ketakutan kita,
dalam duka yang membangunkan kita di malam hari, dalam litania tak berujung dari penderitaan
yang begitu memusingkan hingga akal tak sanggup meraihnya. Bisakah kita mencintai negeri yang keras kepala, yang begitu
mudah untuk kita ingkari, tetapi yang melarang kita melupakannya, negeri yang memanggil kita,
yang mewajibkan kita, negeri yang meminta kita menyelamatkan harta karunnya,
ketika datang saat yang tak terelakkan dari kehancuran?
End of transcript · 219 words · machine translated
Original transcript (French)
Peut-on aimer un pays qui n'est même pas un pays, un pays dont on n'a jamais foulé le sol, un pays avec lequel on n'a, pour tout lien physique, qu'une lampée d'huile d'olive parsemée de zaatar, qui caresse le gosier, qui enchante les papilles de sa verdeur, un pays dont on regarde de vieilles photographies, le cœur battant, en y cherchant le visage de ses ancêtres, au détour d'une ruelle de Jérusalem.
Peut-on aimer un pays que tant de gens autour de soi se réjouissent de voir brûler, un pays défiguré, englouti par la corrosion d'un seul mot, terroriste, un pays d'enfants radieux transformés en pantins mutilés, en cadavres poussiéreux, un pays dont le nom à lui seul constitue une offense, dont le drapeau peut vous mener au commissariat, dont les habitants pèsent moins qu'une plume sur la balance des vies humaines.
Peut-on aimer un pays dont même vos amis semblent ignorer la part de douceur, un pays qui vous rend suspect, qui vous isole dans le tremblement de votre effroi, dans le chagrin qui vous réveille la nuit, dans l'infinie litanie de souffrances vertigineuses pour que l'esprit les saisisse. Peut-on aimer un pays entêté, qu'il serait si facile de renier, mais qui vous interdit de l'oublier, un pays qui vous appelle,
qui vous oblige, un pays qui vous demande de mettre à l'abri ses trésors, qu'en vient l'heure inexorable de la destruction ?