Transcript · Indonesian → English
Critique of Singapore's Investment Practices
Watch a clip of the former Singapore
Prime Minister at the May Day Rally
in 2015.
We are already Indonesia's largest
foreign investor.
They are fifty times bigger than us.
Two hundred and fifty million people.
From time to time, they remind us of that.
To this day, I still remember it clearly,
and honestly, I feel
offended because,
as the former head of the
Investment Coordinating Board
BKPM, I understand how our country
is viewed by Singapore as a
country that begs for handouts.
That is an evil and misguided mindset.
Let me explain.
This Singaporean leader's mindset
is based on arrogance because the
amount of Singapore's investment
in Indonesia has indeed
ranked first for years.
This amount makes them
feel entitled to state
that they matter more even
though their country is five
times smaller. In fact, the opposite is true.
How can Singapore,
which has no natural resources,
feel it can support us, unless they deliberately
designed a system so that the profits
from wealth extracted from the land of
Indonesia, amounting to three
to four thousand trillion rupiah
in profits and foreign exchange,
are parked to sustain Singapore.
How do they do it? They use incentives and tax
treaties that can now be
questioned and must be
accounted for. Why should there be
tax treaties that harm us like this?
And who must be held accountable?
Many Indonesians have heard
the term transfer pricing,
but they do not yet understand this model of crime
this economy. Let me illustrate it with a
very
simple analogy. Singapore markets
itself through its status as a
headquarters
and global trader that facilitates
transfer pricing practices.
Imagine an entrepreneur
mining tin, coal, or
processing palm oil in Indonesia.
From Indonesia, he first sells those goods to
his shell company in
Singapore for one hundred.
Once in Singapore,
that shell company then sells the same goods
to the global market
for two hundred fifty.
Our country, Indonesia, should receive full tax revenue from
that price of two hundred fifty
to build schools, hospitals,
and world-class technology universities on par with
NTU
for Indonesian children. But with that special status in
Singapore, on the profit
difference of one hundred fifty
that
moved there, they pay much lower taxes
or even no taxes at all.
Then the profits are parked in Singapore.
When they need to clear new
land for palm oil or mining
in Indonesia,
they use those Singapore entities
to reinvest in Indonesia.
So, in fact, they are Indonesians
themselves or other foreigners using Singapore entities
to invest in Indonesia.
That is what the IMF report calls
phantom FDI or fictitious investment. Singaporeans
themselves or genuine Singaporean
money may not account for
even a quarter of what
is directly invested
in Indonesia,
because the rest is money
from Indonesia's own
natural resources being cycled back.
They call this round tripping.
After making huge profits from our land,
they list on the Singapore Exchange
because its incentives are extraordinary,
sometimes even better
than Hong Kong's. Of the three
groups of palm oil companies whose
plantations are on Indonesian soil
alone, their market capitalization
on the Singapore Exchange reaches
nearly
two hundred trillion rupiah. And if all
companies with Indonesian- based assets
listed there are combined, their total
market value exceeds seven hundred to
eight
hundred trillion rupiah. After accumulated profits from
those companies are paid out
as dividends to individuals,
they ensure these personal
dividends are reinvested
and do not leave Singapore.
Lured by a sweetener called a family
office, tax-free up to seventy- four percent
our overseas asset declarations
during the tax amnesty
turned out to be piling up in Singapore.
And the most
painful part just happened this
month in the Surya Darmadi palm oil
corruption case. Let’s use common sense.
The forests that were damaged
and burned are in Indonesia.
The crime was committed on Indonesian soil,
and the Indonesian
people suffered losses of
tens of trillions of rupiah.
But when the proceeds of that crime
flowed into Singaporean banks
and the case was uncovered, Singaporean courts instead
seized and took one point ninety-six
trillion rupiah for themselves.
What right does Singapore have to
take the Indonesian people’s money?
This is where the true face
of their ecosystem becomes
clear.
When business is profitable
and operating legitimately,
Singapore is
reap the benefits.
When they are proven wrong and violate
the law,
they join in trampling on us,
and the money is taken by Singapore
as well. In my previous video,
I illustrated
that they are
kiasu, both wanting the middle when walking side by side.
Thus, my analogy is complete.
Eat, drink, and sleep in Singapore.
Throw away trash and
defecate in Indonesia.
And what Singapore’s former Prime Minister,
Lee Hsien Loong, said was
like the finishing touch, spitting in our living room.
I made this content only to stir our patriotic spirit
as a sovereign nation, not as losers or traitors
who are always paid to side with foreign countries.
Singapore must know,
Indonesia today is not the Indonesia of
1998, whose foreign exchange reserves were thin,
so its economy
frail. Today, Indonesia's economy is solid,
our democracy is advanced,
our society is open.
The main requirements to become a
developed nation are all in place.
Let's ask Singapore whether
they are ready for complete openness.
Only time will tell. Because from afar, we can see
your openness is very superficial.
In this era of open collaboration,
where the winner takes all,
Indonesia will begin
downstream processing.
I have a feeling Indonesia will cancel all
foolish agreements,
including the foolish 2020 tax treaty
that brings no benefit to Indonesia.
Indonesia will also reform
itself from within.
We have much homework to complete,
such as infrastructure,
bureaucracy, efficiency, and much more.
All this is guaranteed by democracy.
If they fail, they won't be elected again.
Singapore, fifty years under one party.
Good luck, PAP, just below the sky,
but certainly at the
edge of a cliff.
End of transcript · 1,000 words · machine translated
Original transcript (Indonesian)
Lihat potongan video mantan Perdana Menteri Singapura pada acara Mayday Rally tahun 2015 lalu. We are already Indonesia's biggest foreign investor.
They are fifty times bigger than us. Two hundred and fifty million people. From time to time they remind us of that. Sampai hari ini saya masih ingat betul dan terus terang saya merasa
tersinggung karena sebagai mantan kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM, saya mengerti bagaimana negara kita dipandang sebagai negara
peminta-minta oleh Singapura. Itu adalah pola pikir yang jahat dan keliru. Sini saya jelaskan. Pola pikir pemimpin Singapura ini didasari oleh rasa sombong
karena jumlah investasi Singapura di Indonesia memang teratas selama bertahun-tahun. Jumlah ini membuat mereka merasa berhak untuk menyatakan
bahwa mereka lebih berarti meski negara mereka lima puluh kali lebih kecil. Padahal faktanya terbalik. Bagaimana mungkin Singapura yang tidak punya sumber daya alam itu
merasa dan bisa menghidupi kita, kalau mereka tidak secara sengaja mendesain sistem agar keuntungan harta yang dikeruk di bumi Indonesia sementara tiga ribu hingga empat ribu triliun rupiah
keuntungan dan devisanya diparkir untuk menghidupi Singapura. Caranya bagaimana? Mereka menggunakan insentif dan perjanjian pajak yang hari ini boleh dipertanyakan dan harus
dipertanggungjawabkan. Apa alasannya harus ada perjanjian pajak yang merugikan kita seperti ini? Dan siapa yang harus bertanggung jawab? Banyak orang Indonesia mendengar istilah transfer pricing,
tetapi mereka belum paham model kejahatan ekonomi ini. Saya coba gambarkan dengan perumpamaan yang sangat sederhana. Singapura memasarkan dirinya dengan status
headquarter dan global trader yang memudahkan praktik transfer pricing. Bayangkan ada pengusaha menambang timah, batu bara, atau
mengolah sawit di Indonesia. Dari Indonesia barang itu dia jual dulu ke perusahaan kertasnya di Singapura seharga seratus. Sampai di Singapura
perusahaan kertasnya tadi menjual barangnya yang sama ke pasar dunia dengan harga dua ratus lima puluh. Seharusnya negara kita, Indonesia, menerima pajak penuh dari harga dua ratus lima puluh itu
untuk membangun sekolah, rumah sakit, dan kampus teknologi kelas dunia setara NTU bagi anak-anak Indonesia. Tetapi dengan status khusus di Singapura tadi, atas selisih
keuntungan seratus lima puluh yang dipindahkan ke sana, mereka membayar pajak yang jauh lebih rendah atau bahkan sama sekali tidak membayar pajak. Kemudian keuntungannya diparkir di Singapura.
Ketika mereka perlu membuka lahan baru atau sawit atau lahan tambang di Indonesia, mereka memakai entitas Singapura tadi untuk berinvestasi kembali ke Indonesia.
Jadi sebenarnya itu adalah orang-orang Indonesia sendiri atau orang asing lain yang menggunakan entitas Singapura untuk berinvestasi di Indonesia. Itulah yang di dalam laporan IMF disebut sebagai phantom FDI atau investasi semu. Orang
asli Singapura atau uang asli Singapura mungkin tidak sampai seperempatnya yang secara langsung diinvestasikan di Indonesia
karena sisanya adalah uang dari hasil bumi Indonesia sendiri yang diputar balik. Mereka menyebut ini adalah round tripping. Setelah untung besar dari tanah kita,
mereka melantai di Bursa Singapura karena insentif mereka luar biasa, terkadang bahkan lebih baik dari Hong Kong. Dari tiga grup perusahaan sawit yang
kebunnya di tanah Indonesia saja, nilai pasarnya di Bursa Singapura mencapai hampir dua ratus triliun rupiah. Dan kalau digabung seluruh
perusahaan berbasis aset Indonesia yang listing di sana, total nilainya, pasarnya menembus tujuh ratus hingga delapan ratus triliun rupiah. Setelah akumulasi untung dari
perusahaan itu cair menjadi dividen kepada individu, dividen pribadi ini mereka pastikan diputar lagi dan tidak keluar dari Singapura.
Dengan diiming-imingi pemanis bernama family office bebas pajak hingga tujuh puluh empat persen deklarasi harta luar negeri kita saat tax amnesty ternyata menumpuk di Singapura. Dan bagian
yang paling menyakitkan baru saja terjadi di bulan ini dalam kasus korupsi sawit Surya Darmadi. Coba kita pakai akal sehat. Hutannya yang dirusak dan
dibakar itu di Indonesia. Kejahatannya dilakukan di tanah Indonesia dan rakyat Indonesia yang dirugikan puluhan triliun rupiah.
Tetapi ketika uang hasil kejahatannya itu mengalir ke bank Singapura dan kasusnya terbongkar, pengadilan Singapura justru menyita dan mengambil uang satu koma sembilan puluh enam triliun rupiah untuk mereka sendiri.
Urusannya apa uang rakyat Indonesia diambil oleh Singapura? Di sinilah wajah asli ekosistem mereka terlihat
jelas. Ketika bisnisnya untung dan berjalan benar, Singapura yang mengambil keuntungannya. Giliran terbukti salah dan melanggar
hukum, mereka ikut menginjak kita dan uangnya diambil oleh Singapura juga. Dalam video sebelumnya saya ilustrasikan
mereka ini kiasu, jalan berdua mau di tengah. Maka lengkaplah perumpamaan saya. Makan, minum, dan tidur di Singapura. Buang sampah dan buang
air besar di Indonesia. Dan yang dikatakan mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, itu seperti pelengkapnya, meludah di ruang tamu kita. Saya membuat konten ini hanya ingin menggerakkan jiwa patriotisme kita
sebagai bangsa yang berdaulat, bukan sebagai pecundang atau penghiat bangsa yang selalu dibayar untuk berpihak ke negara luar. Singapura harus tahu, Indonesia hari ini bukan Indonesia tahun 1998 yang cadangan devisinya tipis sehingga
ekonominya ringkih. Hari ini ekonomi Indonesia solid, demokrasi kita maju, society kita terbuka. Syarat utama menjadi negara
maju sudah ada semua. Kita tanya kepada Singapura, apa mereka sudah siap dengan keterbukaan yang sepenuhnya? Hanya sang waktu yang tahu. Karena kita dari jauh bisa lihat keterbukaan Anda sangat semu.
Di zaman keterbukaan kolaborasi, di mana winner sticks all, Indonesia akan mulai hilirisasi. Saya punya perasaan Indonesia akan membatalkan semua
perjanjian bodoh termasuk tax treaty bodoh tahun 2020 yang tidak ada untungnya untuk Indonesia. Indonesia juga akan berbenah diri dari dalam.
Banyak pekerjaan rumah yang harus kita bereskan seperti infrastruktur, birokrasi, efisiensi, dan banyak lagi. Semua ini dijamin oleh demokrasi. Tidak berhasil, tidak dipilih lagi.
Singapura lima puluh tahun satu partai. Selamat berjuang, PAP, sedikit di bawah langit, tapi pasti di depan jurang.